TVRINews, Samarinda
Minimnya akurasi pendataan tenaga kerja dinilai menjadi salah satu faktor yang membuat kontribusi perempuan dalam dunia kerja belum sepenuhnya terlihat. Kondisi ini turut menyebabkan masih adanya kesenjangan yang cukup signifikan antara partisipasi pekerja perempuan dan laki-laki di Kalimantan Timur.
Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kalimantan Timur menyoroti Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan di Kaltim yang hingga kini masih berada di bawah pekerja laki-laki.
Kondisi tersebut menjadi indikator bahwa peran perempuan dalam sektor ekonomi belum tercatat secara optimal dalam sistem pendataan yang ada.
Pelaksana Tugas Kepala DP3A Kaltim, Anik Nurul Aini, menjelaskan bahwa banyak perempuan di Kalimantan Timur sebenarnya telah aktif bekerja, bahkan menjalankan usaha secara mandiri. Namun, secara administratif, kepemilikan usaha tersebut kerap tercatat atas nama suami, anggota keluarga, atau pihak lainnya.
Akibatnya, kontribusi ekonomi yang dihasilkan perempuan tidak tercermin secara akurat dalam data ketenagakerjaan maupun kepemilikan usaha, sehingga memunculkan persepsi bahwa jumlah perempuan yang tidak bekerja masih tinggi.
"Banyak perempuan yang sesungguhnya produktif dan memiliki usaha, tetapi belum tercatat atas nama mereka sendiri. Hal ini membuat kontribusi perempuan dalam sektor ekonomi belum tergambar secara utuh dalam data," ujar Anik Nurul, Selasa, 5 Mei 2026.
DP3A Kaltim menilai kondisi tersebut menunjukkan perlunya perbaikan dalam sistem pendataan tenaga kerja agar mampu menggambarkan kondisi riil di lapangan.

Selain itu, kesadaran mengenai pentingnya pencatatan legalitas dan kepemilikan usaha atas nama pelaku usaha perempuan juga perlu terus ditingkatkan.
Langkah ini diharapkan dapat menghadirkan data yang lebih akurat sekaligus memperkuat pengakuan terhadap kontribusi perempuan dalam pembangunan ekonomi daerah.










