TVRINews, Kalimantan Timur
Keterbatasan sumber air menjadi kendala utama bagi petani di Kota Samarinda, Kalimantan Timur, dalam upaya mengatasi kekeringan yang menyebabkan tanaman padi gagal panen. Kondisi ini terjadi di tengah musim kemarau panjang yang dipengaruhi fenomena El Niño.
Berbagai langkah antisipasi telah dilakukan, mulai dari perbaikan saluran irigasi hingga penyaluran bantuan pompa air. Namun, upaya tersebut belum berjalan optimal karena sumber air di sekitar lahan pertanian turut mengalami kekeringan.
Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kota Samarinda, Adung, mengatakan persoalan utama yang dihadapi petani saat ini bukan semata-mata ketersediaan peralatan, melainkan tidak adanya sumber air yang memadai untuk dipompa dan dialirkan ke sawah.
“Pompanya ada, tapi sumber airnya kan tidak ada. Ini juga menjadi masalah,” kata Adung.
Menurut Adung, pembangunan sumur air tanah dalam dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengatasi persoalan kekurangan air bagi lahan pertanian. Ia mencontohkan sistem pengairan yang ditemuinya di wilayah Madiun, Jawa Timur, saat melakukan perjalanan. Di kawasan sekitar jalur rel kereta api, ia melihat pemanfaatan pompa yang mengambil air dari sumber air tanah dalam untuk mendukung pengairan lahan pertanian.
Sebelumnya, upaya mengantisipasi kekeringan telah dilakukan sejak Juni hingga Juli. Petani bersama penyuluh dan pendamping pertanian bergotong royong memperbaiki saluran irigasi yang mengarah ke waduk. Langkah tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan air untuk pengairan sawah.
Adung juga menyampaikan bahwa pemerintah sebelumnya telah melakukan survei dan verifikasi calon petani dan calon lokasi (CPCL) sebagai bagian dari tahapan persiapan pembangunan sumur air tanah dalam. Verifikasi tersebut dilakukan untuk menentukan petani penerima manfaat sekaligus memastikan lokasi yang dinilai sesuai untuk pembangunan fasilitas sumber air.
Namun, hingga kini pembangunan sumur tersebut belum terealisasi. Sementara itu, kekeringan di sejumlah lahan pertanian masih menjadi tantangan bagi petani yang berupaya mempertahankan hasil produksi mereka.
Adung mengakui, pembangunan sumur air tanah dalam saat ini kemungkinan tidak lagi dapat menyelamatkan tanaman padi yang telah mengalami puso atau gagal panen akibat kekeringan. Meski demikian, ia menegaskan bahwa pembangunan fasilitas tersebut tetap penting untuk dipersiapkan sebagai investasi jangka panjang bagi sektor pertanian di Kota Samarinda.










