TVRINews, Nusantara
Penggunaan energi terbarukan dan elektrifikasi di sektor pertambangan mulai memasuki babak baru di Kalimantan Timur. Langkah awal ini mencakup pengembangan pembangkit energi dengan kapasitas 80 megawatt (MW), sistem penyimpanan energi berbasis baterai 160 megawatt hour (MWh), serta ekspansi lebih dari 1.000 unit kendaraan listrik untuk operasional pertambangan.
Director of Mobility SUN, Karina Darmawan, mengungkapkan bahwa elektrifikasi di sektor pertambangan kini bukan lagi sekadar isu keberlanjutan lingkungan, melainkan langkah strategis dan efisien.
“Dengan teknologi yang semakin berkembang, perusahaan tambang kini memiliki lebih banyak pilihan untuk mengelola kebutuhan energinya secara lebih efisien dan andal," kata Karina dalam keterangan resminya, yang diterima pada Rabu, 4 November 2026.
Solusi Energi Terintegrasi di Lahan eks-Tambang
Salah satu inovasi yang diterapkan dalam konsep green mining ini adalah pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) apung di lubang bekas galian tambang yang tergenang air.
Energi yang dihasilkan nantinya disalurkan ke sistem penyimpanan energi berbasis baterai (BESS) untuk menjaga stabilitas daya sesuai dengan kebutuhan operasional tambang harian.
Di sisi mobilitas, armada kendaraan listrik yang akan disiagakan mencakup kendaraan operasional ringan hingga kendaraan logistik pertambangan. Ekosistem ini turut dilengkapi dengan infrastruktur pengisian daya, fasilitas bengkel, layanan pemeliharaan, serta sistem pemantauan armada.
Karina menambahkan bahwa keseluruhan ekosistem tersebut dihadirkan guna membentuk sistem layanan yang menjaga kesiapan, efektivitas, dan keberlangsungan operasional tambang.
Elektrifikasi Tanpa Investasi Awal
Dalam mendukung terbentuknya green mining, SUN menerapkan skema bisnis Electrification as a Service (EaaS). Dalam skema ini, perusahaan tambang dapat mengadopsi teknologi elektrifikasi tanpa perlu mengeluarkan belanja modal awal untuk infrastruktur. Seluruh perencanaan, penyediaan teknologi, hingga pemeliharaan operasional dikelola langsung oleh pihak penyedia layanan.
"Kami ingin mempermudah pelanggan mengadopsi elektrifikasi sekaligus memberikan kepastian dukungan operasional," jelas Karina. “Implementasi ini menjadi langkah awal SUN untuk membawa solusi elektrifikasi terintegrasi ke skala yang lebih besar dan membuka jalan bagi transformasi industri pertambangan di Indonesia,” tutupnya.









